Jumat, 18 September 2026

Bisakah Semua Data Center AI Menggunakan 100% Energi Terbarukan?

 


Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence berkembang sangat cepat.

Berbagai layanan AI kini digunakan untuk membuat artikel, menganalisis data, menerjemahkan dokumen, menghasilkan gambar, membantu pemrograman, hingga mendukung penelitian ilmiah.

Namun seluruh layanan tersebut tidak berjalan di ruang virtual yang bebas sumber daya.

Di balik aplikasi AI terdapat pusat data yang berisi:

  • Server komputasi.
  • GPU dan akselerator AI.
  • Perangkat penyimpanan data.
  • Sistem jaringan.
  • Pendingin.
  • Catu daya cadangan.
  • Sistem keamanan dan pemantauan.

Peralatan tersebut membutuhkan listrik selama 24 jam. Semakin besar model dan jumlah pengguna, semakin besar pula kebutuhan komputasinya.

Lalu muncul pertanyaan penting:

Bagaimana jika seluruh pusat data AI di dunia menggunakan energi terbarukan?

Secara teori, hal itu mungkin dilakukan. Namun terdapat perbedaan besar antara membeli energi terbarukan dalam jumlah yang setara dengan konsumsi tahunan dan mengoperasikan pusat data menggunakan listrik terbarukan setiap jam sepanjang tahun.

Pilihan kedua jauh lebih sulit karena data center membutuhkan listrik stabil, sedangkan produksi tenaga surya dan angin berubah mengikuti waktu serta cuaca.

Data Center AI Menjadi Sumber Permintaan Listrik Baru

Data center bukan konsumen listrik terbesar dunia. Industri, bangunan, pendingin udara, dan transportasi masih menggunakan energi jauh lebih besar secara keseluruhan.

Namun konsumsi listrik data center tumbuh cepat dan terkonsentrasi di lokasi tertentu.

International Energy Agency memperkirakan konsumsi listrik pusat data global dapat meningkat menjadi sekitar 945 terawatt-hour pada 2030, hampir dua kali lipat dibandingkan 2024. Pertumbuhannya diperkirakan sekitar 15 persen per tahun dan akan mewakili sedikit di bawah 3 persen konsumsi listrik dunia pada 2030.

Angka tersebut mencakup seluruh pusat data, bukan hanya fasilitas yang khusus digunakan untuk AI.

Pemisahan yang tepat antara konsumsi AI, cloud biasa, penyimpanan data, video, dan layanan digital lain memang sulit dilakukan. Banyak pusat data menjalankan berbagai jenis beban komputasi secara bersamaan.

Namun IEA memperkirakan konsumsi listrik server terakselerasi, yang pertumbuhannya terutama didorong oleh penggunaan AI, meningkat sekitar 30 persen per tahun hingga 2030. Kelompok server tersebut diperkirakan menyumbang hampir setengah dari tambahan konsumsi listrik pusat data global.

Mengapa AI Mengonsumsi Banyak Listrik?

Penggunaan energi AI dapat dibagi menjadi dua kegiatan utama.

Pelatihan model

Pelatihan atau training dilakukan untuk membangun kemampuan model.

Prosesnya dapat melibatkan banyak GPU atau akselerator komputasi yang bekerja secara paralel dalam waktu panjang. Energi digunakan untuk:

  • Memproses data.
  • Melakukan perhitungan matematis.
  • Memindahkan data antarserver.
  • Menyimpan hasil pelatihan.
  • Mendinginkan peralatan.

Tidak semua pelatihan model selalu membutuhkan fasilitas raksasa. Besarnya energi sangat bergantung pada ukuran model, jumlah data, jenis chip, efisiensi perangkat lunak, dan durasi pelatihan.

Inferensi

Inferensi adalah proses ketika model yang telah dilatih melayani permintaan pengguna.

Contohnya ketika pengguna meminta AI untuk:

  • Menjawab pertanyaan.
  • Meringkas dokumen.
  • Membuat gambar.
  • Menghasilkan video.
  • Menganalisis data.
  • Menulis kode.

Satu permintaan mungkin menggunakan energi relatif kecil. Namun ketika jumlah pengguna mencapai jutaan atau miliaran permintaan, konsumsi inferensi secara keseluruhan dapat menjadi sangat besar.

Listrik Tidak Hanya Digunakan oleh Chip AI

Chip komputasi bukan satu-satunya pengguna listrik di dalam pusat data.

Energi juga digunakan untuk:

  • Pendinginan server.
  • Pompa dan kipas.
  • Transformator.
  • Uninterruptible Power Supply atau UPS.
  • Penyimpanan data.
  • Peralatan jaringan.
  • Penerangan dan keamanan.
  • Kehilangan energi dalam konversi listrik.

Efisiensi fasilitas umumnya diukur menggunakan Power Usage Effectiveness atau PUE.

Secara sederhana:

PUE = total energi fasilitas dibagi energi yang digunakan peralatan teknologi informasi.

Nilai PUE yang semakin mendekati 1 menunjukkan bahwa semakin sedikit energi tambahan yang digunakan untuk pendinginan dan fasilitas pendukung.

Membangun pembangkit baru bukan satu-satunya cara memenuhi pertumbuhan AI. Mengurangi energi per komputasi melalui chip, model, perangkat lunak, pendinginan, dan desain fasilitas yang lebih efisien dapat menekan kebutuhan pembangkit serta jaringan baru.

Dari Mana Listrik Data Center Berasal Saat Ini?

Secara fisik, sebagian besar pusat data masih mengambil listrik dari jaringan setempat.

Bauran energinya mengikuti pembangkit yang beroperasi pada jaringan tersebut.

IEA memperkirakan bahwa pada 2024 sekitar:

  • 30 persen listrik data center global berasal dari batu bara.
  • 27 persen berasal dari energi terbarukan.
  • 26 persen berasal dari gas alam.
  • 15 persen berasal dari nuklir.

Angka tersebut menggambarkan listrik yang secara fisik memasok jaringan tempat data center beroperasi, bukan komposisi kontrak energi yang diumumkan perusahaan.

Sampai 2030, energi terbarukan diperkirakan memenuhi hampir setengah dari tambahan kebutuhan listrik pusat data. Namun gas dan batu bara secara bersama-sama masih berpotensi memasok lebih dari 40 persen pertumbuhan kebutuhan tersebut dalam jangka pendek.

Artinya, pertumbuhan AI tidak otomatis identik dengan pertumbuhan energi bersih.

Hasil akhirnya akan ditentukan oleh seberapa cepat pembangkit, jaringan, penyimpanan, dan mekanisme pengadaan listrik rendah karbon dapat dikembangkan.

Apa Arti “100 Persen Energi Terbarukan”?

Istilah 100 persen energi terbarukan dapat memiliki beberapa pengertian.

1. Energi terbarukan di lokasi

Data center menggunakan pembangkit yang dibangun di dalam atau dekat kompleks, seperti:

  • Panel surya atap.
  • PLTS lahan.
  • Turbin angin.
  • Biogas.
  • Panas bumi lokal.

Model ini memberikan hubungan fisik yang lebih jelas.

Namun pembangkit di lokasi biasanya tidak cukup melayani seluruh kebutuhan pusat data, terutama pada fasilitas berskala ratusan megawatt.

2. Kontrak pembelian energi

Operator dapat membuat Power Purchase Agreement atau PPA dengan pengembang energi terbarukan.

Pengembang membangun pembangkit surya, angin, air, atau panas bumi. Listriknya masuk ke jaringan, sementara data center membeli energi atau atribut lingkungannya berdasarkan kontrak.

PPA dapat membantu memberikan kepastian pendapatan bagi proyek pembangkit baru.

3. Sertifikat energi terbarukan

Perusahaan dapat membeli sertifikat yang mewakili produksi listrik terbarukan dalam jumlah tertentu.

Namun sertifikat tidak selalu berarti pusat data menerima elektron dari pembangkit tersebut secara langsung.

4. Pencocokan tahunan

Perusahaan membeli energi terbarukan dalam jumlah yang setara dengan seluruh konsumsi listrik tahunannya.

Misalnya, pusat data mengonsumsi 1 terawatt-hour selama setahun dan perusahaan membeli produksi energi terbarukan sebesar 1 terawatt-hour.

Secara akuntansi, jumlah tahunan seimbang.

Masalahnya, tenaga surya mungkin diproduksi pada siang hari di satu wilayah, sedangkan data center tetap menggunakan listrik jaringan berbasis fosil pada malam hari atau di lokasi lain.

5. Energi bersih 24/7

Pendekatan paling ketat adalah mencocokkan konsumsi listrik dengan produksi rendah karbon:

  • Pada lokasi atau jaringan yang relevan.
  • Dalam setiap jam.
  • Sepanjang tahun.

Google pernah menjelaskan bahwa pencocokan energi terbarukan tahunan tidak berarti pusat datanya menggunakan energi terbarukan setiap saat. Ketika produksi surya dan angin tidak tersedia, fasilitas masih dapat mengambil listrik dari pembangkit lain pada jaringan. Karena itu, perusahaan menargetkan penggunaan energi bebas karbon setiap jam atau 24/7 carbon-free energy.

Microsoft pada Februari 2026 mengumumkan telah mencapai pencocokan 100 persen konsumsi listrik tahunan globalnya dengan energi terbarukan. Pencapaian tersebut penting, tetapi konsepnya tetap berbeda dari pembuktian bahwa setiap fasilitas secara fisik menggunakan energi terbarukan setiap jam.

Mengapa Pencocokan 24 Jam Jauh Lebih Sulit?

Kebutuhan pusat data relatif stabil, sedangkan sebagian energi terbarukan bersifat berubah-ubah.

Tenaga surya

Produksi tertinggi terjadi pada siang hari dan turun hingga nol pada malam hari.

Awan, hujan, debu, bayangan, dan musim juga memengaruhi produksinya.

Tenaga angin

Angin dapat menghasilkan listrik pada siang atau malam hari, tetapi kecepatannya berubah.

Dalam periode tertentu, beberapa wilayah dapat mengalami produksi rendah selama beberapa hari.

Tenaga air

PLTA dapat menghasilkan energi yang stabil atau fleksibel, tetapi dipengaruhi curah hujan, kapasitas waduk, kebutuhan air, serta kondisi sungai.

Panas bumi

Panas bumi dapat beroperasi hampir sepanjang waktu dan tidak bergantung pada cuaca harian.

Namun pengembangannya membutuhkan lokasi dengan sumber panas bumi, pengeboran, perizinan, eksplorasi, serta waktu pembangunan yang relatif panjang.

Bioenergi

Bioenergi dapat dikendalikan sesuai kebutuhan, tetapi memerlukan pasokan bahan baku berkelanjutan dan pengendalian emisi yang baik.

Karena karakteristiknya berbeda, pusat data yang ingin menggunakan energi terbarukan 24 jam membutuhkan portofolio, bukan satu teknologi saja.

Apakah Panel Surya Saja Sudah Cukup?

Untuk sebagian kebutuhan siang hari, panel surya sangat menarik karena dapat dibangun relatif cepat dan modular.

Namun PLTS saja tidak dapat menjamin listrik 24 jam.

Pusat data masih membutuhkan kombinasi:

  • Baterai.
  • Jaringan listrik.
  • Pembangkit terbarukan lain.
  • Pengelolaan permintaan.
  • Cadangan darurat.
  • Kontrak pasokan dari beberapa lokasi.

Membangun PLTS berkapasitas sama dengan beban data center juga belum tentu cukup.

Sebagai ilustrasi, fasilitas dengan beban konstan 100 MW membutuhkan energi sekitar:

100 MW × 24 jam = 2.400 MWh per hari.

PLTS 100 MW tidak menghasilkan 100 MW selama 24 jam. Produksinya hanya terjadi ketika radiasi matahari tersedia.

Karena itu, kapasitas PLTS perlu dibangun lebih besar daripada beban rata-rata, disertai penyimpanan atau sumber listrik lain.

Bisakah Baterai Menyelesaikan Masalah?

Baterai merupakan bagian penting dari solusi, tetapi bukan satu-satunya jawaban.

Baterai dapat digunakan untuk:

  • Menjaga kualitas daya.
  • Menjembatani gangguan singkat.
  • Memindahkan energi surya dari siang ke malam.
  • Mengurangi beban puncak.
  • Mendukung layanan jaringan.
  • Membantu operasi darurat.

Namun kebutuhan penyimpanan akan menjadi sangat besar apabila baterai harus menopang seluruh data center selama beberapa malam atau saat produksi energi terbarukan rendah selama berhari-hari.

Biayanya dipengaruhi oleh:

  • Daya dalam megawatt.
  • Kapasitas energi dalam megawatt-hour.
  • Lama penyimpanan.
  • Jumlah siklus.
  • Degradasi.
  • Sistem pendinginan.
  • Penggantian baterai.
  • Keselamatan dan perlindungan kebakaran.

Baterai lithium-ion saat ini banyak digunakan untuk penyimpanan beberapa jam. Untuk menghadapi kekurangan energi selama berhari-hari atau perbedaan musim, sistem dapat membutuhkan teknologi penyimpanan berdurasi panjang, PLTA pompa, hidrogen, panas, atau dukungan jaringan antardaerah.

Apakah Dunia Memiliki Cukup Mineral untuk Baterai?

Pertumbuhan baterai meningkatkan kebutuhan terhadap:

  • Litium.
  • Nikel.
  • Grafit.
  • Tembaga.
  • Aluminium.
  • Fosfat.
  • Mineral lain sesuai jenis kimia baterai.

Namun tidak semua baterai menggunakan nikel dan kobalt.

Baterai lithium iron phosphate atau LFP, misalnya, tidak menggunakan nikel dan kobalt pada material katodanya. Untuk penyimpanan stasioner, terdapat pula alternatif seperti baterai aliran, sodium-ion, penyimpanan termal, dan sistem mekanis.

Karena itu, pertumbuhan penyimpanan energi tidak selalu berarti seluruh fasilitas harus menggunakan baterai berbasis nikel.

Indonesia tetap memiliki posisi penting dalam industri mineral dan baterai. Namun nilai tambah tidak seharusnya hanya diukur dari jumlah mineral yang ditambang.

Indikator lain yang perlu diperhatikan adalah:

  • Energi yang digunakan smelter.
  • Emisi produksi.
  • Pengelolaan limbah.
  • Reklamasi tambang.
  • Kualitas air.
  • Tingkat daur ulang.
  • Nilai tambah teknologi di dalam negeri.

Dapatkah Beban AI Mengikuti Ketersediaan Energi?

Sebagian pekerjaan komputasi AI dapat dibuat lebih fleksibel.

Pelatihan model tertentu, pengolahan data nonmendesak, dan pekerjaan komputasi batch dapat dijadwalkan ketika:

  • Energi surya sedang tinggi.
  • Angin sedang kuat.
  • Harga listrik rendah.
  • Emisi jaringan sedang rendah.
  • Kapasitas jaringan sedang longgar.

Pekerjaan juga dapat dipindahkan ke pusat data lain apabila konektivitas dan aturan penyimpanan data memungkinkan.

Google, misalnya, telah mengembangkan pendekatan untuk menggeser pekerjaan komputasi yang fleksibel menuju waktu ketika listrik jaringan lebih bersih.

Namun tidak semua beban dapat ditunda.

Layanan inferensi yang harus menjawab pengguna secara langsung mempunyai batas latensi. Sistem perbankan, kesehatan, komunikasi, keamanan, dan layanan penting lainnya juga harus tersedia saat dibutuhkan.

Model yang realistis adalah:

  • Beban fleksibel mengikuti energi.
  • Beban waktu nyata tetap memperoleh pasokan andal.
  • Seluruh fasilitas meningkatkan efisiensi.

Jika Semua Data Center AI Beralih ke Energi Terbarukan, Apa Dampaknya?

1. Emisi operasional dapat turun signifikan

Penggunaan energi terbarukan akan mengurangi emisi dari listrik yang selama ini berasal dari batu bara dan gas.

Namun hasilnya bergantung pada kualitas pengadaannya.

Membeli sertifikat dari pembangkit lama tidak memberikan dampak yang sama dengan mendanai pembangkit baru yang benar-benar menambah pasokan bersih.

2. Investasi energi terbarukan meningkat

Perusahaan teknologi memiliki kebutuhan listrik besar dan kemampuan membuat kontrak jangka panjang.

PPA data center dapat membantu pembangkit baru memperoleh pembiayaan.

Permintaan tersebut dapat mempercepat pembangunan:

  • PLTS.
  • PLTB.
  • PLTA.
  • Panas bumi.
  • Bioenergi.
  • Baterai.
  • Jaringan transmisi.

3. Kapasitas pembangkit harus dibangun lebih besar

Karena surya dan angin tidak selalu tersedia, sistem mungkin membutuhkan kapasitas terpasang yang jauh lebih besar daripada beban rata-rata pusat data.

Sebagian produksi akan digunakan langsung, sebagian disimpan, dan sebagian dikirim kepada konsumen lain.

4. Jaringan menjadi semakin penting

Energi terbarukan terbaik mungkin berada jauh dari pusat konsumsi.

Data center biasanya memilih lokasi berdasarkan:

  • Konektivitas serat optik.
  • Latensi.
  • Keamanan.
  • Ketersediaan lahan.
  • Risiko bencana.
  • Iklim.
  • Pajak dan regulasi.
  • Kedekatan dengan pengguna.

Lokasi tersebut belum tentu berdekatan dengan pembangkit surya, air, angin, atau panas bumi.

Karena itu, transmisi dan interkoneksi diperlukan untuk menghubungkan sumber listrik dengan pusat data.

5. Harga listrik lokal dapat terpengaruh

Data center dapat membantu membiayai pembangkit dan jaringan baru.

Namun beban besar yang masuk lebih cepat daripada pembangunan pasokan juga dapat:

  • Memperketat kapasitas jaringan.
  • Meningkatkan kebutuhan pembangkit fosil.
  • Menunda sambungan konsumen lain.
  • Menimbulkan biaya penguatan jaringan.
  • Meningkatkan tekanan terhadap tarif.

Kebijakan harus memastikan biaya tambahan tidak seluruhnya dibebankan kepada rumah tangga dan industri yang sudah ada.

6. Persaingan mendapatkan energi bersih dapat meningkat

Pusat data bukan satu-satunya sektor yang membutuhkan listrik bersih.

Industri baja, semen, pupuk, kendaraan listrik, rumah tangga, transportasi, dan manufaktur juga akan mengalami elektrifikasi.

Jika perusahaan teknologi menguasai sebagian besar kontrak energi bersih, sektor lain dapat kesulitan memperoleh pasokan rendah karbon.

Solusinya bukan membatasi data center, melainkan mempercepat penambahan pembangkit serta jaringan untuk seluruh sistem.

Energi Terbarukan Belum Menyelesaikan Seluruh Dampak Data Center

Menggunakan listrik terbarukan tidak otomatis membuat pusat data bebas dampak lingkungan.

Masih terdapat emisi dan penggunaan sumber daya dari:

  • Produksi chip.
  • Pembangunan gedung.
  • Baja dan beton.
  • Baterai.
  • Generator cadangan.
  • Refrigeran.
  • Peralatan jaringan.
  • Penggantian server.
  • Limbah elektronik.
  • Transportasi.
  • Penggunaan air.

Data center juga membutuhkan pendinginan.

Sebagian fasilitas menggunakan pendinginan udara. Sebagian lainnya menggunakan air atau sistem cairan tertutup. Kebutuhan aktualnya sangat dipengaruhi desain, iklim, jenis chip, teknologi pendinginan, serta sumber listrik.

Karena itu, pusat data hijau harus mengukur lebih dari sekadar energi terbarukan.

Indikatornya perlu mencakup:

  • PUE untuk efisiensi energi.
  • WUE untuk penggunaan air.
  • Emisi operasional.
  • Emisi pembangunan dan perangkat.
  • Persentase listrik bersih per jam.
  • Limbah elektronik.
  • Pemanfaatan kembali panas.
  • Umur peralatan.

Apakah Panas Bumi Cocok untuk Data Center?

Panas bumi memiliki karakteristik yang menarik bagi pusat data karena:

  • Dapat beroperasi siang dan malam.
  • Tidak terlalu bergantung pada cuaca.
  • Memiliki emisi operasional relatif rendah.
  • Dapat menyediakan pasokan stabil.

Departemen Energi Amerika Serikat juga menilai panas bumi berpotensi membantu memenuhi kebutuhan pusat data yang membutuhkan pasokan andal dan berkelanjutan.

Bagi Indonesia, panas bumi merupakan salah satu keunggulan strategis.

Pada akhir 2025, kapasitas panas bumi Indonesia mencapai sekitar 2.744 MW. Namun angka tersebut masih jauh lebih kecil daripada keseluruhan potensi dan kebutuhan listrik nasional.

Panas bumi juga tidak dapat dibangun dalam waktu sangat singkat. Tahap eksplorasi memiliki risiko, sedangkan lokasi sumbernya belum tentu dekat dengan pusat konektivitas digital.

Pilihan yang lebih realistis adalah menyalurkan listrik panas bumi melalui jaringan dan kontrak pengadaan, bukan selalu membangun data center tepat di samping sumur panas bumi.

Bagaimana dengan PLTA?

Tenaga air dapat menyediakan listrik rendah karbon yang stabil dan fleksibel.

PLTA dengan waduk dapat membantu mengimbangi perubahan produksi surya dan angin. PLTA pompa bahkan dapat berfungsi sebagai sistem penyimpanan energi.

Namun setiap proyek harus memperhatikan:

  • Ekosistem sungai.
  • Masyarakat sekitar.
  • Sedimentasi.
  • Ketersediaan air.
  • Perubahan curah hujan.
  • Risiko bendungan.
  • Emisi waduk tertentu.

Bagi data center, PLTA menarik karena dapat menyediakan energi besar. Namun ketergantungan hanya pada tenaga air juga berisiko ketika terjadi kekeringan berkepanjangan.

Apakah Nuklir Termasuk Energi Terbarukan?

Nuklir bukan energi terbarukan dalam definisi umum karena menggunakan bahan bakar mineral yang terbatas.

Namun nuklir merupakan sumber listrik rendah karbon dan dapat beroperasi sepanjang hari.

Karena itu, perlu dibedakan antara dua target:

Target 100 persen energi terbarukan

Sumbernya dapat berupa:

  • Surya.
  • Angin.
  • Air.
  • Panas bumi.
  • Bioenergi berkelanjutan.

Nuklir tidak dimasukkan.

Target 100 persen listrik bebas karbon

Selain energi terbarukan, portofolionya dapat memasukkan:

  • Nuklir.
  • Penyimpanan.
  • Sumber fosil dengan penangkapan karbon yang terbukti efektif.

Perusahaan teknologi mulai melirik nuklir karena kebutuhan listrik AI yang besar dan stabil.

Google menandatangani kesepakatan untuk membeli hingga 500 MW listrik dari beberapa reaktor modular yang direncanakan Kairos Power, dengan unit pertama ditargetkan beroperasi pada awal dekade 2030-an.

Microsoft juga membuat perjanjian jangka panjang yang mendukung rencana pengoperasian kembali Unit 1 Three Mile Island—yang kemudian dinamai Crane Clean Energy Center—untuk memasok listrik bebas karbon ke jaringan regional.

Namun SMR belum menjadi solusi komersial yang tersedia luas saat ini. Proyek masih menghadapi perizinan, biaya, konstruksi, penerimaan masyarakat, rantai pasok, dan pengelolaan limbah radioaktif.

Apakah 100 Persen Energi Terbarukan Secara Teknis Mungkin?

Pada basis tahunan, banyak perusahaan sudah dapat membeli produksi energi terbarukan dalam jumlah yang setara dengan konsumsinya.

Pada basis fisik setiap jam, jawabannya lebih kompleks.

Data center dapat mendekati 100 persen energi terbarukan 24/7 jika didukung oleh kombinasi:

  • Surya.
  • Angin.
  • Tenaga air.
  • Panas bumi.
  • Bioenergi yang berkelanjutan.
  • Baterai.
  • Penyimpanan jangka panjang.
  • Jaringan antardaerah.
  • Pengelolaan beban.
  • Kapasitas berlebih.
  • Pasokan cadangan.

Namun kombinasi tersebut belum tersedia pada harga, skala, dan lokasi yang sama di seluruh dunia.

IEA memperkirakan energi terbarukan akan menjadi sumber pertumbuhan terbesar bagi pasokan listrik data center. Meski demikian, pembangkit fosil masih berperan besar setidaknya hingga 2030 karena pertumbuhan data center berlangsung lebih cepat daripada pembangunan sebagian infrastruktur energi.

Jadi, skenario global 100 persen terbarukan mungkin secara teknis, tetapi memerlukan perubahan sistem listrik yang jauh lebih besar daripada sekadar memasang panel surya di atap pusat data.

Efisiensi Harus Mendahului Penambahan Pembangkit

Kebutuhan listrik AI tidak ditentukan hanya oleh jumlah pengguna.

Efisiensi dapat meningkat melalui:

  • Chip yang lebih hemat energi.
  • Model yang lebih kecil untuk tugas tertentu.
  • Kuantisasi dan kompresi.
  • Penggunaan kembali model.
  • Pengelolaan beban.
  • Pendinginan cair.
  • Temperatur operasi yang dioptimalkan.
  • Penggunaan server yang lebih tinggi.
  • Penghapusan data yang tidak diperlukan.
  • Pemanfaatan panas buang.

Google melaporkan bahwa meskipun permintaan listrik pusat datanya meningkat 27 persen pada 2024, perusahaan juga meningkatkan efisiensi chip, model, dan infrastruktur serta menambah kontrak energi bersih baru.

Data tersebut berasal dari laporan perusahaan dan perlu dibaca sebagai pelaporan operasionalnya sendiri. Namun prinsip umumnya tetap relevan: pertumbuhan AI perlu disertai target penurunan energi per unit komputasi.

Peluang Indonesia Menjadi Hub Data Center Hijau

Indonesia memiliki beberapa modal penting:

  • Pasar digital besar.
  • Lokasi strategis di Asia Tenggara.
  • Jaringan kabel laut internasional.
  • Potensi energi surya.
  • Panas bumi.
  • Tenaga air.
  • Bioenergi.
  • Industri mineral dan baterai.

Pemerintah juga menargetkan peningkatan kapasitas pusat data per kapita dari baseline 0,74 watt per kapita pada 2024 menjadi 6,87 watt per kapita pada 2029. Target tersebut tercantum dalam rencana strategis Kementerian Komunikasi dan Digital 2025–2029.

Komdigi dan PLN pada November 2025 juga menjalin kerja sama pengembangan infrastruktur energi untuk pusat data dan infrastruktur digital. Kerja sama tersebut diarahkan pada pasokan yang andal serta peningkatan penggunaan energi terbarukan.

Namun untuk menjadi hub data center hijau, Indonesia harus menghadapi kenyataan bahwa bauran energi terbarukan nasional pada 2025 baru sekitar 15,75 persen. Kapasitas EBT tercatat sekitar 15.630 MW, terdiri terutama atas tenaga air, bioenergi, panas bumi, dan tenaga surya.

Artinya, label data center hijau tidak cukup hanya didasarkan pada lokasi di Indonesia.

Operator perlu membuktikan dari mana listriknya berasal dan apakah pembelian energi tersebut benar-benar menambah pembangkit rendah karbon.

Lokasi Data Center Tidak Boleh Hanya Mengikuti Lahan Murah

Pemilihan lokasi sebaiknya mempertimbangkan:

  • Ketersediaan listrik.
  • Koneksi serat optik.
  • Latensi ke pengguna.
  • Risiko banjir dan gempa.
  • Ketersediaan air.
  • Suhu dan kelembapan.
  • Kapasitas jaringan.
  • Potensi energi terbarukan.
  • Ketersediaan tenaga kerja.
  • Keamanan dan regulasi.

Indonesia tidak harus memusatkan semua pusat data di kawasan yang sama.

Diversifikasi lokasi dapat mengurangi tekanan pada satu sistem listrik dan membuka peluang memanfaatkan energi rendah karbon di berbagai wilayah.

Namun memindahkan data center jauh dari pengguna dapat meningkatkan latensi dan kebutuhan jaringan telekomunikasi. Karena itu, Indonesia memerlukan kombinasi:

  • Pusat data besar untuk cloud dan AI.
  • Pusat data regional.
  • Edge data center untuk layanan berlatensi rendah.
  • Sistem pemulihan bencana di wilayah berbeda.

Strategi Energi Data Center Indonesia

1. Membedakan listrik hijau tahunan dan 24/7

Regulator perlu membedakan klaim:

  • Membeli sertifikat tahunan.
  • Memiliki PPA energi terbarukan.
  • Menggunakan energi bersih setiap jam.
  • Menggunakan pembangkit yang benar-benar baru.

Perusahaan tidak boleh menggunakan istilah 100 persen hijau tanpa menjelaskan metodologinya.

2. Mendorong pembangkit baru

Pengadaan listrik data center sebaiknya memenuhi prinsip additionality.

Artinya, kontrak tersebut membantu membangun kapasitas energi terbarukan baru, bukan hanya mengambil sertifikat dari pembangkit yang telah beroperasi lama.

3. Membuat kontrak berbasis waktu dan lokasi

Dalam tahap awal, pencocokan dapat dilakukan secara tahunan.

Selanjutnya, sistem dapat bergerak menuju pencocokan bulanan dan per jam dengan memperhatikan lokasi jaringan.

4. Mengintegrasikan data center dengan RUPTL

Pertumbuhan pusat data harus masuk dalam perencanaan pembangkit, transmisi, gardu, dan penyimpanan.

RUPTL 2025–2034 mengarahkan 76 persen tambahan kapasitas pembangkit dan penyimpanan berasal dari energi baru terbarukan serta storage. Data center dapat menjadi pembeli jangka panjang yang membantu merealisasikan proyek tersebut.

5. Melindungi pelanggan lain

Data center harus ikut menanggung biaya yang ditimbulkan oleh kebutuhan:

  • Gardu baru.
  • Transmisi.
  • Kapasitas cadangan.
  • Penyimpanan.
  • Penguatan jaringan.
  • Kualitas daya.

Ekspansi data center tidak boleh menyebabkan tarif rumah tangga dan industri lain meningkat tanpa pembagian biaya yang adil.

6. Memberikan insentif untuk fleksibilitas

Operator dapat memperoleh tarif atau insentif jika bersedia:

  • Mengurangi beban saat sistem kritis.
  • Memindahkan pelatihan AI ke jam surplus.
  • Menggunakan baterai untuk membantu jaringan.
  • Menempatkan beban fleksibel di wilayah kaya energi.
  • Menjalankan generator darurat hanya ketika diperlukan.

7. Menetapkan standar pusat data hijau

Standar sekurang-kurangnya perlu mencakup:

  • PUE.
  • Water Usage Effectiveness.
  • Emisi karbon.
  • Persentase listrik rendah karbon.
  • Pencocokan energi per jam.
  • Pengelolaan limbah elektronik.
  • Penggunaan refrigeran.
  • Efisiensi server.
  • Rencana pemulihan gangguan.
  • Transparansi data.

8. Mengembangkan panas bumi dan hidro sebagai listrik stabil

Surya dapat menjadi sumber pertumbuhan cepat. Panas bumi dan tenaga air dapat membantu menyediakan listrik yang lebih stabil.

Ketiganya perlu didukung oleh baterai, interkoneksi, dan sistem kendali.

9. Mengembangkan keterampilan dan industri lokal

Investasi data center seharusnya menciptakan permintaan terhadap:

  • Teknisi listrik.
  • Operator pendingin.
  • Ahli keamanan siber.
  • Insinyur jaringan.
  • Teknisi energi terbarukan.
  • Sistem baterai.
  • Konstruksi.
  • Perawatan.
  • Perangkat lunak efisiensi energi.

Manfaat ekonomi akan lebih besar jika peralatan, layanan, dan tenaga kerjanya semakin banyak berasal dari dalam negeri.

10. Mengukur manfaat ekonomi per megawatt

Pemerintah tidak cukup menghitung nilai investasi.

Data center perlu dinilai berdasarkan:

  • Pekerjaan yang tercipta.
  • Pajak.
  • Transfer teknologi.
  • Pemakaian listrik.
  • Penggunaan air.
  • Nilai tambah digital.
  • Dukungan bagi perusahaan lokal.
  • Biaya jaringan.
  • Emisi.
  • Ketahanan data nasional.

Fasilitas yang menggunakan listrik sangat besar tetapi memberikan sedikit manfaat lokal perlu mendapat evaluasi berbeda dari pusat data yang mendukung ekosistem digital nasional.

Model Ideal Data Center AI Rendah Karbon

Sistem ideal tidak bergantung pada satu pembangkit.

Contoh portofolionya adalah:

Pada siang hari

  • PLTS memasok kebutuhan utama.
  • Kelebihan energi mengisi baterai.
  • Beban pelatihan AI ditingkatkan ketika listrik berlimpah.

Pada malam hari

  • Panas bumi, PLTA, dan angin memasok beban dasar.
  • Baterai membantu memenuhi periode puncak.
  • Jaringan menyediakan keseimbangan.

Saat energi terbarukan rendah

  • Pekerjaan fleksibel ditunda atau dipindahkan.
  • Penyimpanan berdurasi panjang digunakan.
  • Data center mengambil listrik dari jaringan yang lebih luas.
  • Sistem cadangan hanya digunakan ketika diperlukan.

Model tersebut lebih realistis daripada meminta satu pembangkit surya melayani fasilitas selama 24 jam.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah semua data center AI dapat menggunakan energi terbarukan?

Secara tahunan, hal tersebut relatif lebih mudah dilakukan melalui PPA dan sertifikat.

Menggunakan energi terbarukan secara fisik setiap jam jauh lebih sulit karena membutuhkan kombinasi pembangkit, penyimpanan, jaringan, dan pengelolaan beban.

Apakah AI akan menghabiskan listrik dunia?

Tidak berdasarkan proyeksi dasar saat ini.

IEA memperkirakan data center menggunakan sedikit di bawah 3 persen listrik dunia pada 2030. Namun dampaknya dapat besar pada wilayah tertentu karena beban data center terkonsentrasi.

Apakah satu pertanyaan AI menggunakan listrik sangat besar?

Konsumsi per permintaan berbeda-beda menurut model, panjang jawaban, perangkat keras, tingkat penggunaan server, dan metode penghitungan.

Angka tunggal yang beredar di internet tidak dapat mewakili seluruh jenis layanan AI.

Apakah baterai dapat menyalakan data center sepanjang malam?

Bisa secara teknis jika kapasitasnya cukup.

Namun biaya dan jumlah baterainya meningkat sejalan dengan besar beban dan lama penyimpanan. Karena itu, baterai biasanya dipadukan dengan jaringan dan pembangkit lain.

Apakah nuklir termasuk solusi energi terbarukan?

Nuklir bukan energi terbarukan, tetapi termasuk sumber listrik rendah karbon.

Nuklir relevan jika targetnya adalah listrik bebas karbon 24/7, bukan 100 persen energi terbarukan.

Apakah panas bumi cocok untuk data center Indonesia?

Cocok sebagai bagian dari portofolio karena dapat beroperasi stabil.

Namun pengembangannya memerlukan waktu, investasi, eksplorasi, jaringan, dan kepastian harga.

Apakah energi terbarukan membuat data center sepenuhnya bersih?

Tidak.

Masih terdapat emisi dan dampak dari pembangunan gedung, produksi chip, baterai, penggunaan air, generator cadangan, serta limbah elektronik.

Kesimpulan

Seluruh data center AI secara teori dapat mencocokkan konsumsi listrik tahunannya dengan energi terbarukan.

Namun menyediakan listrik terbarukan secara fisik setiap jam sepanjang tahun merupakan tantangan yang jauh lebih besar.

Tenaga surya dan angin akan menjadi bagian penting karena dapat dibangun secara modular dan semakin kompetitif. Namun pusat data juga membutuhkan sumber yang stabil, seperti panas bumi dan tenaga air, disertai baterai, jaringan kuat, pengelolaan beban, serta penyimpanan berdurasi panjang.

Nuklir dapat menjadi bagian dari portofolio listrik rendah karbon, tetapi bukan energi terbarukan.

Masa depan AI yang berkelanjutan tidak cukup dibangun dengan membeli sertifikat hijau. Pusat data perlu:

  • Menggunakan energi secara efisien.
  • Membiayai pembangkit baru.
  • Mencocokkan konsumsi dengan energi bersih berdasarkan waktu dan lokasi.
  • Membantu memperkuat jaringan.
  • Mengelola air dan limbah.
  • Menanggung biaya infrastruktur yang ditimbulkannya.
  • Memberikan manfaat nyata kepada masyarakat sekitar.

Bagi Indonesia, pertumbuhan pusat data merupakan peluang untuk menarik investasi, membangun industri digital, menciptakan pekerjaan, dan mempercepat pengembangan energi terbarukan.

Namun peluang itu hanya akan optimal jika ekspansi data center berjalan seiring dengan pembangunan pembangkit, transmisi, penyimpanan, serta standar lingkungan yang transparan.

Pada akhirnya, masa depan kecerdasan buatan tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih algoritmanya.

Masa depan AI juga ditentukan oleh kemampuan manusia menyediakan komputasi yang efisien, listrik yang andal, dan energi yang semakin rendah karbon.

Rabu, 16 September 2026

Apakah Internet Bisa Mati Total? Ini Skenario, Dampak, dan Cara Menghadapinya

 


Bayangkan suatu pagi Anda bangun dan menemukan berbagai layanan digital tidak dapat digunakan.

WhatsApp gagal mengirim pesan. Google tidak terbuka. Mobile banking tidak dapat terhubung. Marketplace berhenti memproses transaksi. Email tidak masuk, sedangkan aplikasi transportasi dan pembayaran digital hanya menampilkan pesan kesalahan.

Awalnya, Anda mungkin mengira jaringan seluler sedang bermasalah.

Namun bagaimana jika gangguan tersebut terjadi di banyak kota, negara, atau bahkan benua?

Apakah internet benar-benar dapat mati?

Intinya, internet dapat mengalami gangguan besar pada tingkat lokal, nasional, regional, bahkan lintas benua. Namun membuat seluruh internet dunia mati secara bersamaan jauh lebih sulit karena internet bukan satu jaringan tunggal yang dikendalikan oleh satu perusahaan atau satu pemerintah.

Internet merupakan kumpulan puluhan ribu jaringan independen yang saling terhubung. Tidak ada satu pusat kendali atau satu tombol yang dapat mematikannya secara global. Arsitektur terdesentralisasi tersebut menjadi salah satu sumber utama ketahanan internet.

Apa yang Dimaksud dengan “Internet Mati”?

Istilah internet mati dapat merujuk pada beberapa kondisi yang berbeda.

Tingkat gangguan    Contoh kondisi
Perangkat    Ponsel atau modem bermasalah
Lokal    Wi-Fi rumah atau jaringan kantor terputus
Operator    Salah satu provider mengalami gangguan
Layanan    WhatsApp, Google, atau mobile banking tidak dapat diakses
Regional    Satu kota atau pulau kehilangan konektivitas
Nasional    Sebagian besar koneksi suatu negara terputus
Global    Mayoritas jaringan dunia tidak dapat saling berkomunikasi

Ketika sebuah aplikasi besar berhenti bekerja, masyarakat sering menganggap internet sedang mati.

Padahal, koneksi internetnya mungkin masih berfungsi. Gangguan hanya terjadi pada aplikasi, penyedia cloud, sistem autentikasi, atau layanan Domain Name System yang digunakan aplikasi tersebut.

Karena itu, penting membedakan antara:

  • Internet, yaitu jaringan yang menghubungkan berbagai jaringan komputer.
  • Web dan aplikasi, yaitu layanan yang berjalan di atas internet.
  • Cloud, yaitu infrastruktur komputasi dan penyimpanan yang digunakan aplikasi.
  • DNS, yaitu sistem yang membantu menerjemahkan nama situs menjadi alamat jaringan.

Google, media sosial, dan layanan perbankan dapat berhenti berfungsi sementara internet secara keseluruhan tetap hidup.

Mengapa Internet Sulit Dimatikan Secara Global?

Internet tidak dibangun seperti jaringan listrik nasional yang mempunyai pusat pengendalian tertentu.

Internet bekerja melalui hubungan antara banyak jaringan yang disebut Autonomous System. Jaringan tersebut dikelola oleh:

  • Penyedia layanan internet.
  • Operator telekomunikasi.
  • Perusahaan teknologi.
  • Pemerintah.
  • Universitas.
  • Pusat data.
  • Penyedia cloud.
  • Jaringan konten.
  • Organisasi internasional.

Setiap jaringan dapat memilih bagaimana menghubungkan dan mengirimkan lalu lintas datanya ke jaringan lain.

Jika satu jalur mengalami gangguan, router dapat mengarahkan lalu lintas menuju jalur alternatif—selama rute lain tersedia dan memiliki kapasitas yang cukup.

Desain ini membuat internet relatif tahan terhadap kerusakan pada satu titik. Namun ketahanan tersebut tidak berarti setiap wilayah memiliki jumlah jalur cadangan yang sama.

Negara atau pulau yang hanya mengandalkan satu kabel utama akan lebih rentan dibandingkan wilayah yang terhubung melalui beberapa kabel, satelit, jalur darat, dan pusat pertukaran internet.

Kabel Bawah Laut adalah Tulang Punggung Internet Dunia

Banyak orang mengira komunikasi internet antarnegara terutama menggunakan satelit.

Faktanya, kabel serat optik bawah laut merupakan tulang punggung utama konektivitas internasional.

International Telecommunication Union menyebut kabel bawah laut memfasilitasi lebih dari 99 persen pertukaran data internasional. Pada 2024 terdapat lebih dari 500 sistem kabel aktif dan direncanakan yang menghubungkan berbagai benua dan pasar dunia.

Kabel tersebut membawa berbagai layanan penting, seperti:

  • Transaksi perbankan.
  • Komunikasi pemerintah.
  • Pertukaran data cloud.
  • Panggilan video.
  • Konten media sosial.
  • Perdagangan elektronik.
  • Komunikasi perusahaan.
  • Data riset dan pendidikan.

Kabel bawah laut dapat mempunyai panjang ribuan kilometer. Di sepanjang kabel terdapat perangkat penguat sinyal, sedangkan kedua ujungnya terhubung dengan cable landing station atau stasiun pendaratan kabel.

Dari stasiun tersebut, data diteruskan melalui jaringan serat optik darat menuju pusat data, operator, dan pengguna.

Apa yang Terjadi Jika Kabel Bawah Laut Putus?

Kerusakan kabel bawah laut merupakan kejadian nyata dan terjadi secara berkala.

Penyebabnya dapat berupa:

  • Jangkar kapal.
  • Aktivitas penangkapan ikan.
  • Pergeseran dasar laut.
  • Gempa bumi.
  • Longsor bawah laut.
  • Abrasi.
  • Penuaan infrastruktur.
  • Kegiatan konstruksi laut.

ITU mengidentifikasi aktivitas penangkapan ikan, jangkar, aktivitas dasar laut, gempa, bencana alam, dan penuaan sebagai sejumlah risiko utama kabel bawah laut.

Jika hanya satu kabel yang putus, internet biasanya tidak langsung hilang.

Lalu lintas dapat dialihkan menuju kabel lain. Namun pengalihan tersebut dapat menyebabkan:

  • Kecepatan internet menurun.
  • Latensi meningkat.
  • Koneksi internasional tidak stabil.
  • Tarif kapasitas meningkat.
  • Jalur alternatif mengalami kepadatan.
  • Sebagian layanan tidak dapat diakses.

Dampaknya akan lebih berat apabila beberapa kabel yang melewati koridor geografis yang sama rusak secara bersamaan.

Sebuah negara dapat terlihat mempunyai beberapa kabel, tetapi seluruhnya mungkin melewati daerah laut yang sama. Jika gempa atau longsor mengenai koridor tersebut, beberapa koneksi dapat terputus sekaligus.

Laporan ITU pada 2026 juga mengingatkan bahwa ketergantungan pada koridor yang sama dapat menciptakan kerentanan meskipun secara administratif terdapat lebih dari satu sistem kabel. Perbaikan dapat berlangsung beberapa hari atau minggu, terutama ketika kapal perbaikan, jalur pendaratan alternatif, dan kapasitas satelit terbatas.

Apakah Satelit Bisa Menggantikan Kabel Bawah Laut?

Satelit sangat penting untuk melayani:

  • Pulau kecil.
  • Daerah terpencil.
  • Kapal dan pesawat.
  • Daerah bencana.
  • Lokasi yang belum dijangkau serat optik.
  • Komunikasi darurat.

Satelit orbit rendah juga menawarkan kecepatan dan latensi yang semakin kompetitif.

Namun dalam kondisi saat ini, satelit belum dapat menggantikan seluruh kapasitas kabel bawah laut.

Kabel serat optik mempunyai kapasitas sangat besar dan dapat membawa lalu lintas dalam jumlah tinggi dengan biaya per unit data yang relatif rendah. Sementara itu, kapasitas satelit harus dibagi kepada pengguna dalam cakupan tertentu.

Satelit lebih tepat digunakan sebagai:

  • Jalur cadangan.
  • Penghubung wilayah terpencil.
  • Sistem komunikasi darurat.
  • Pelengkap jaringan kabel.
  • Solusi sementara selama restorasi.

Contoh penerapan terjadi di Indonesia pada 2026 ketika kerusakan kabel Palapa Ring Tengah memengaruhi konektivitas di Kepulauan Sangihe dan Sitaro. Pemerintah menambah kapasitas berbasis Satelit Republik Indonesia atau SATRIA pada sejumlah titik pelayanan selama proses restorasi kabel berlangsung.

Kasus tersebut memperlihatkan bahwa satelit dapat menjaga layanan dasar, tetapi kapasitasnya belum tentu dapat menggantikan seluruh kemampuan kabel dalam kondisi normal.

Apakah Putusnya Banyak Kabel Dapat Memisahkan Sebuah Negara?

Secara teknis, hal tersebut mungkin terjadi, terutama pada negara kepulauan kecil atau wilayah yang hanya mempunyai sedikit jalur internasional.

Namun pemisahan total tidak selalu berarti seluruh layanan digital berhenti.

Jika infrastruktur domestik masih bekerja, masyarakat mungkin masih dapat mengakses:

  • Situs lokal.
  • Pusat data dalam negeri.
  • Jaringan intranet pemerintah.
  • Sistem perusahaan domestik.
  • Konten yang tersimpan pada server lokal.
  • Layanan pembayaran tertentu.

Sebaliknya, layanan yang server, autentikasi, DNS, atau aplikasinya berada di luar negeri dapat terganggu.

Keberadaan pusat pertukaran internet atau Internet Exchange Point membantu lalu lintas domestik tetap berada di dalam negeri tanpa harus melewati negara lain.

Inilah alasan pembangunan pusat data lokal, pertukaran internet, dan penyimpanan konten domestik penting bagi kedaulatan serta ketahanan digital.

Seberapa Rentan Indonesia?

Sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat bergantung pada sistem komunikasi kabel laut untuk menghubungkan:

  • Antarpulau.
  • Indonesia dengan Singapura.
  • Indonesia dengan Australia.
  • Indonesia dengan Asia Timur.
  • Indonesia dengan jaringan global lainnya.

Kementerian Komunikasi dan Digital menjelaskan bahwa hampir seluruh lalu lintas internet internasional Indonesia disalurkan melalui Sistem Komunikasi Kabel Laut yang terhubung dengan berbagai hub global.

Indonesia telah memiliki banyak jalur kabel, jaringan darat, satelit, dan Palapa Ring. Namun kerentanannya tidak sama pada setiap daerah.

Jawa dan kota-kota besar umumnya mempunyai lebih banyak pilihan operator dan jalur. Sebaliknya, sejumlah pulau kecil dapat bergantung pada satu segmen kabel atau satu stasiun transmisi utama.

Gangguan pada satu segmen di kawasan tersebut dapat memberikan dampak lebih besar, meskipun internet di wilayah Indonesia lainnya tetap berjalan.

Pembangunan redundansi Indonesia perlu memperhatikan:

  • Jalur kabel yang berbeda secara geografis.
  • Stasiun pendaratan di beberapa lokasi.
  • Jaringan antarpulau.
  • Kapasitas satelit cadangan.
  • Pusat data regional.
  • Internet exchange lokal.
  • Pasokan listrik cadangan.
  • Ketersediaan kapal dan teknisi perbaikan.

Redundansi bukan hanya memiliki dua kabel. Kedua kabel tersebut harus sebisa mungkin tidak melewati koridor risiko yang sama.

Bisakah Gangguan DNS Membuat Internet Terlihat Mati?

Bisa.

Domain Name System atau DNS bekerja seperti sistem direktori yang menerjemahkan nama seperti contoh.com menjadi alamat IP yang dapat dibaca mesin.

Jika DNS yang digunakan sebuah aplikasi terganggu, pengguna mungkin tidak dapat membuka layanan tersebut meskipun server dan koneksi internetnya masih hidup.

Pada Oktober 2016, penyedia DNS Dyn menjadi sasaran serangan Distributed Denial of Service. Serangan tersebut membuat banyak layanan populer sulit diakses oleh pengguna di sejumlah wilayah. Namun internet secara keseluruhan tidak mati; yang terganggu adalah proses pencarian alamat bagi layanan yang bergantung pada Dyn.

Sistem DNS global sendiri mempunyai redundansi yang luas.

Server akar DNS menggunakan banyak lokasi dan teknologi anycast. Dengan anycast, banyak server di lokasi berbeda dapat melayani alamat yang sama sehingga permintaan diarahkan menuju instansi yang tersedia atau terdekat.

ICANN menjelaskan bahwa banyaknya instansi anycast meningkatkan kapasitas dan ketahanan terhadap serangan. Meskipun sistem server akar pernah menjadi sasaran serangan, tidak ada serangan yang berhasil menjatuhkan seluruh sistem akar secara bersamaan.

Namun organisasi tetap harus menggunakan:

  • Lebih dari satu penyedia DNS.
  • Server DNS di lokasi berbeda.
  • Pemantauan perubahan DNS.
  • Proteksi DDoS.
  • Prosedur perubahan darurat.
  • Cache yang dikonfigurasi dengan tepat.

Ketergantungan pada satu penyedia DNS dapat menciptakan titik kegagalan tunggal.

Bagaimana Jika Penyedia Cloud Besar Mengalami Gangguan?

Banyak aplikasi modern bergantung pada beberapa penyedia cloud besar.

Satu aplikasi dapat menggunakan:

  • Server komputasi dari satu penyedia.
  • Penyimpanan dari penyedia lain.
  • DNS eksternal.
  • Sistem autentikasi pihak ketiga.
  • Content Delivery Network.
  • Layanan pembayaran.
  • API komunikasi.

Jika salah satu komponen tersebut gagal, aplikasi secara keseluruhan dapat berhenti.

Gangguan cloud dapat memengaruhi ribuan situs dan aplikasi secara bersamaan. Namun kejadian tersebut tetap berbeda dari kematian internet.

Pengguna mungkin masih dapat terhubung ke jaringan, membuka layanan lain, dan berkomunikasi melalui platform yang tidak bergantung pada cloud yang bermasalah.

Masalah utamanya adalah konsentrasi layanan.

Meskipun struktur dasar internet terdesentralisasi, banyak aplikasi semakin bergantung pada sejumlah kecil perusahaan cloud, penyedia DNS, jaringan distribusi konten, dan sistem identitas. Internet Society menilai peningkatan sentralisasi tersebut dapat menciptakan risiko terhadap ketahanan ekosistem internet.

Bisakah Serangan Siber Mematikan Internet?

Serangan siber dapat menimbulkan gangguan besar, tetapi mematikan internet dunia secara permanen masih sangat sulit.

Serangan dapat menargetkan beberapa lapisan.

Serangan terhadap pengguna

Contohnya malware, pencurian kredensial, dan ransomware.

Dampaknya biasanya terbatas pada perangkat atau organisasi tertentu.

Serangan terhadap aplikasi

Serangan dapat melumpuhkan situs, layanan pembayaran, atau aplikasi tertentu.

Internet tetap berjalan, tetapi layanan tersebut tidak tersedia.

Serangan terhadap DNS

Pengguna kesulitan menemukan alamat layanan.

Serangan terhadap operator

Router, sistem manajemen jaringan, dan pusat operasi dapat menjadi sasaran.

Serangan terhadap routing

Pengumuman rute yang salah atau berbahaya dapat membuat lalu lintas dialihkan, terputus, atau menuju tujuan yang tidak semestinya.

Serangan terhadap infrastruktur fisik

Sistem kontrol kabel, pusat data, stasiun pendaratan, listrik, dan pendinginan dapat terganggu.

Serangan yang sangat terkoordinasi terhadap banyak operator dapat menciptakan gangguan regional yang serius.

Namun pelaku harus menyerang banyak jaringan, teknologi, yurisdiksi, dan perusahaan secara bersamaan untuk melumpuhkan internet global.

Selain itu, jaringan yang tidak terkena serangan masih dapat beroperasi dan membentuk konektivitas di antara mereka sendiri.

Internet Sangat Bergantung pada Listrik

Internet tidak dapat berjalan tanpa energi.

Listrik dibutuhkan oleh:

  • Base Transceiver Station.
  • Router.
  • Pusat data.
  • Stasiun pendaratan kabel.
  • Perangkat penguat serat optik.
  • Sistem pendingin.
  • Modem rumah.
  • Ponsel dan komputer.
  • Satelit serta stasiun bumi.

Fasilitas penting biasanya mempunyai UPS, baterai, dan generator cadangan.

Namun cadangan tersebut hanya dapat digunakan selama periode tertentu. Generator juga memerlukan bahan bakar, pemeliharaan, dan jalur pengisian ulang.

Apabila pemadaman listrik berlangsung luas dan berkepanjangan, layanan komunikasi akan menurun secara bertahap:

  1. Perangkat pengguna kehabisan baterai.
  2. BTS menggunakan baterai cadangan.
  3. Generator diaktifkan.
  4. Persediaan bahan bakar menurun.
  5. Sebagian stasiun berhenti beroperasi.
  6. Konektivitas menjadi semakin terbatas.

Krisis listrik lintas negara yang berlangsung lama dapat menimbulkan dampak internet lebih besar daripada kerusakan satu aplikasi atau kabel.

Bisakah Badai Matahari Mematikan Internet?

Badai matahari dan badai geomagnetik merupakan risiko nyata bagi infrastruktur teknologi.

Peristiwa ekstrem dapat memengaruhi:

  • Jaringan transmisi listrik.
  • Satelit.
  • Komunikasi radio.
  • Navigasi GPS.
  • Sistem elektronik tertentu.

NOAA menyatakan badai geomagnetik kuat dapat menimbulkan masalah tegangan pada sistem tenaga, memengaruhi operasi satelit, dan mengganggu propagasi radio. NASA juga menyebut lontaran massa korona dapat menginduksi arus pada jaringan listrik dan merusak komponen seperti transformator, relai, serta pemutus sirkuit.

Peristiwa Carrington pada 1859 sering digunakan sebagai rujukan badai geomagnetik ekstrem. Jika peristiwa dengan skala serupa terjadi sekarang, dampaknya terhadap jaringan listrik, komunikasi, dan satelit dapat jauh lebih besar karena masyarakat modern sangat bergantung pada teknologi elektronik.

Namun bukan berarti badai matahari pasti akan “membakar seluruh internet”.

Kabel serat optik sendiri mengirimkan sinyal menggunakan cahaya dan tidak menghantarkan listrik seperti kabel tembaga. Risiko utamanya lebih banyak berasal dari:

  • Gangguan jaringan listrik.
  • Kerusakan perangkat elektronik.
  • Gangguan satelit.
  • Kegagalan stasiun komunikasi.
  • Hilangnya sistem navigasi dan waktu.

Dampaknya juga tidak akan sama di semua wilayah. Infrastruktur pada lintang tinggi umumnya lebih rentan terhadap arus geomagnetik dibandingkan wilayah dekat khatulistiwa.

Bisakah Pemerintah Mematikan Internet Satu Negara?

Sebuah pemerintah tidak dapat mematikan seluruh internet dunia, tetapi secara teknis dapat membatasi akses di wilayah yurisdiksinya.

Pembatasan dapat dilakukan melalui:

  • Perintah kepada operator.
  • Pemutusan gerbang internasional.
  • Pemblokiran DNS.
  • Penyaringan alamat IP.
  • Penarikan rute.
  • Pembatasan layanan seluler.
  • Pemblokiran aplikasi tertentu.

Kemudahan pelaksanaannya bergantung pada struktur jaringan negara tersebut.

Negara dengan sedikit operator dan satu gerbang nasional lebih mudah diisolasi dibandingkan negara yang memiliki banyak jaringan, kabel, pertukaran internet, dan koneksi lintas batas.

Internet Society menekankan bahwa sifat internet yang terdesentralisasi dan berbasis interkoneksi sukarela merupakan unsur penting ketahanannya. Sentralisasi konektivitas pada satu gerbang dapat menciptakan titik kendali sekaligus titik kegagalan yang lebih besar.

Skenario Apa yang Dapat Menimbulkan Gangguan Internet Global?

Internet dunia kemungkinan baru mengalami gangguan sangat luas apabila beberapa lapisan gagal secara bersamaan.

1. Perang berskala global

Konflik dapat merusak kabel, pusat data, satelit, pembangkit listrik, dan jaringan telekomunikasi.

Namun jaringan di wilayah yang tidak terdampak mungkin masih dapat bekerja secara lokal atau regional.

2. Serangan siber terkoordinasi

Serangan harus mengenai banyak operator, DNS, cloud, routing, dan jaringan listrik secara bersamaan.

Serangan seperti ini sangat sulit dilakukan, meskipun dampak regional tetap perlu diantisipasi.

3. Badai geomagnetik ekstrem

Gangguan besar pada listrik dan satelit dapat menurunkan konektivitas secara luas.

Pemulihan akan bergantung pada tingkat kerusakan transformator, elektronik, dan rantai pasok suku cadang.

4. Kegagalan listrik lintas benua

Internet dapat bertahan sementara menggunakan cadangan, tetapi layanan akan menurun jika pasokan energi tidak pulih.

5. Kerusakan kabel pada beberapa koridor utama

Gempa atau sabotase yang mengenai beberapa koridor penting dapat memisahkan wilayah tertentu dan menyebabkan kepadatan pada jalur alternatif.

6. Keruntuhan rantai pasok teknologi

Internet membutuhkan semikonduktor, kabel, bahan bakar, baterai, pendingin, kapal perbaikan, dan tenaga ahli.

Krisis global berkepanjangan dapat membuat kerusakan sulit diperbaiki.

Agar internet benar-benar tidak dapat dipulihkan, gangguan harus begitu besar hingga masyarakat kehilangan kemampuan memproduksi listrik, semikonduktor, peralatan telekomunikasi, dan komponen jaringan.

Dalam kondisi tersebut, persoalan utamanya bukan lagi sekadar internet, melainkan keberlangsungan sistem ekonomi dan peradaban modern.

Apa yang Terjadi Jika Internet Mati Selama Beberapa Jam?

Gangguan selama beberapa jam dapat menimbulkan:

  • Kegagalan pembayaran digital.
  • Kesulitan mengakses layanan perbankan.
  • Terhambatnya layanan pelanggan.
  • Gangguan pekerjaan jarak jauh.
  • Terputusnya komunikasi aplikasi.
  • Hambatan pemesanan transportasi.
  • Penundaan pengiriman data perusahaan.

Sebagian sistem kritis masih dapat berjalan menggunakan jaringan privat atau prosedur lokal.

Namun layanan yang dirancang sepenuhnya bergantung pada cloud akan lebih cepat terdampak.

Apa yang Terjadi Jika Gangguan Berlangsung Satu Hari?

Setelah satu hari, dampaknya menjadi lebih luas.

Perusahaan dapat menghadapi:

  • Penumpukan transaksi.
  • Gangguan pengiriman barang.
  • Kesulitan menghubungi pemasok.
  • Gangguan sistem gudang.
  • Keterlambatan pencairan dana.
  • Penurunan penjualan.
  • Kegagalan akses dokumen cloud.

Masyarakat mungkin mulai beralih ke uang tunai, telepon biasa, radio, dan komunikasi langsung.

Gangguan informasi juga berpotensi memicu rumor serta pembelian berlebihan apabila pemerintah dan operator tidak menyediakan komunikasi alternatif.

Bagaimana Jika Internet Hilang Selama Tujuh Hari?

Gangguan luas selama satu minggu dapat mengganggu banyak sektor.

Perbankan dan pembayaran

Tidak semua sistem perbankan menggunakan internet publik. Namun akses nasabah, autentikasi, konektivitas merchant, dan integrasi antarsistem dapat terganggu.

Perdagangan dan logistik

Sistem pemesanan, pelacakan, pengelolaan gudang, dan dokumen pengiriman semakin bergantung pada konektivitas.

Penerbangan dan transportasi

Reservasi, penjadwalan, informasi penumpang, serta koordinasi operasional akan mengalami tekanan.

Industri

Sistem produksi yang bergantung pada cloud, data pemasok, atau pemeliharaan jarak jauh dapat berhenti.

Kesehatan

Rumah sakit perlu mengakses rekam medis, stok obat, laboratorium, dan sistem rujukan.

Pemerintahan

Pelayanan administrasi, pengadaan, perpajakan, bantuan sosial, dan koordinasi dapat melambat.

Media dan informasi

Masyarakat akan lebih bergantung pada televisi, radio, komunikasi satelit, dan pengumuman langsung.

Internet bukan hanya sarana hiburan. Internet telah menjadi infrastruktur pendukung layanan keuangan, pangan, transportasi, kesehatan, dan pemerintahan.

Bagaimana Organisasi Harus Mempersiapkan Diri?

Organisasi tidak perlu menyiapkan skenario internet global hilang selamanya.

Skenario yang lebih realistis adalah:

  • Operator utama mati selama beberapa jam.
  • Kabel terputus selama beberapa hari.
  • Cloud tidak tersedia.
  • DNS terganggu.
  • Pusat data gagal.
  • Serangan ransomware.
  • Listrik dan internet terputus bersamaan.

ISO 22301 menyediakan kerangka sistem manajemen kelangsungan bisnis untuk membantu organisasi mempersiapkan, merespons, dan memulihkan layanan saat terjadi gangguan. Versi yang berlaku adalah ISO 22301:2019 beserta Amendment 1:2024.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan meliputi:

1. Melakukan Business Impact Analysis

Organisasi perlu menentukan:

  • Layanan mana yang paling kritis.
  • Berapa lama layanan boleh berhenti.
  • Data apa yang harus tersedia.
  • Dampak finansial dan operasional.
  • Ketergantungan pada internet, cloud, dan pihak ketiga.

2. Menggunakan lebih dari satu provider

Dua koneksi akan lebih efektif jika menggunakan:

  • Operator berbeda.
  • Jalur fisik berbeda.
  • Stasiun pendaratan berbeda.
  • Moda berbeda, misalnya kabel dan satelit.

Membeli dua layanan yang ternyata menggunakan kabel fisik yang sama tidak memberikan redundansi penuh.

3. Menyediakan mode operasi offline

Proses kritis perlu tetap dapat dilakukan secara terbatas tanpa internet, misalnya:

  • Formulir manual.
  • Daftar kontak cetak.
  • Dokumen prosedur offline.
  • Pencatatan transaksi sementara.
  • Sistem lokal untuk fungsi kritis.
  • Rekonsiliasi setelah koneksi pulih.

4. Menyiapkan backup data

Backup harus mempunyai salinan:

  • Di lokasi berbeda.
  • Tidak selalu terhubung ke jaringan.
  • Dapat dipulihkan.
  • Telah diuji secara berkala.

Backup yang tidak pernah diuji belum dapat dianggap sebagai strategi pemulihan.

5. Mengurangi ketergantungan pada satu cloud

Organisasi dapat mempertimbangkan:

  • Wilayah cloud berbeda.
  • Penyedia cadangan.
  • Arsitektur hybrid.
  • Server lokal untuk proses penting.
  • Replikasi data.
  • DNS sekunder.

Multi-cloud tidak selalu diperlukan bagi semua organisasi karena biaya dan kompleksitasnya tinggi. Pilihan harus disesuaikan dengan tingkat kritikalitas layanan.

6. Menyiapkan komunikasi alternatif

Pilihan komunikasi darurat dapat mencakup:

  • Telepon seluler dari operator lain.
  • Radio komunikasi.
  • Telepon satelit.
  • SMS.
  • Hotline lokal.
  • Titik koordinasi fisik.

7. Menyediakan daya cadangan

Router, server, radio, dan perangkat komunikasi memerlukan:

  • UPS.
  • Baterai.
  • Generator.
  • Persediaan bahan bakar.
  • Pengujian berkala.

8. Melakukan simulasi

Latihan dapat menggunakan skenario:

Internet dan cloud utama tidak tersedia selama 24 jam.

Simulasi harus menguji apakah perusahaan masih mampu:

  • Melayani pelanggan.
  • Membayar pegawai.
  • Mengirim barang.
  • Menghubungi pemasok.
  • Mengakses data penting.
  • Mengambil keputusan.

Apa yang Bisa Disiapkan Masyarakat?

Masyarakat tidak perlu panik atau menyimpan perlengkapan secara berlebihan.

Namun beberapa langkah sederhana dapat membantu saat terjadi gangguan regional:

  • Menyimpan nomor penting secara offline.
  • Memiliki sedikit uang tunai untuk keadaan darurat.
  • Mengunduh peta perjalanan yang diperlukan.
  • Menyimpan salinan dokumen penting.
  • Mengetahui saluran radio atau informasi pemerintah.
  • Memiliki power bank yang terawat.
  • Tidak mempercayai rumor yang belum diverifikasi.
  • Memahami prosedur pembayaran alternatif.
  • Memiliki kartu SIM dari operator berbeda jika kebutuhan komunikasinya kritis.

Persiapan tersebut juga berguna saat terjadi banjir, gempa, pemadaman listrik, dan bencana lain.

Mitos tentang Internet Mati

“Jika Google mati, berarti internet mati”

Tidak.

Google adalah salah satu penyedia layanan di atas internet. Layanan lain masih dapat bekerja.

“Jika satu kabel laut putus, satu negara pasti offline”

Tidak selalu.

Dampaknya bergantung pada jumlah jalur cadangan dan kapasitas kabel alternatif.

“Satelit dapat langsung menggantikan semua kabel”

Belum.

Satelit sangat penting sebagai pelengkap dan cadangan, tetapi kapasitas totalnya masih berbeda dari jaringan kabel global.

“Serangan siber dapat mematikan internet hanya dengan satu virus”

Serangan dapat melumpuhkan banyak layanan, tetapi internet terdiri atas banyak teknologi dan jaringan berbeda.

“Internet dirancang untuk bertahan dari perang nuklir”

Internet memang berkembang dari riset jaringan yang menekankan ketahanan komunikasi, tetapi internet modern bukan sistem yang dijamin tetap berfungsi dalam seluruh skenario perang atau kehancuran infrastruktur.

“Data di cloud pasti aman saat internet putus”

Data mungkin tetap tersimpan, tetapi pengguna tidak dapat mengaksesnya jika konektivitas, autentikasi, atau penyedia cloud mengalami gangguan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah seluruh internet dunia pernah mati?

Belum pernah terjadi pemadaman total seluruh internet global.

Yang pernah terjadi adalah gangguan pada negara, wilayah, operator, layanan cloud, kabel, DNS, atau aplikasi tertentu.

Apakah internet dapat mati karena listrik padam?

Bisa pada wilayah yang mengalami pemadaman.

Baterai dan generator dapat mempertahankan layanan sementara, tetapi membutuhkan bahan bakar dan pemeliharaan.

Apakah kabel laut mudah diputus?

Kabel cukup kuat tetapi tetap dapat rusak akibat jangkar, penangkapan ikan, gempa, atau longsor dasar laut.

Perbaikannya memerlukan kapal khusus dan dapat memakan waktu.

Apakah jaringan 5G tetap bekerja jika kabel laut putus?

Jaringan 5G lokal mungkin masih hidup, tetapi akses ke layanan internasional dapat terganggu karena BTS tetap membutuhkan jaringan penghubung atau backhaul.

Apakah VPN dapat mengatasi internet yang mati?

VPN hanya dapat bekerja jika masih tersedia koneksi menuju server VPN.

VPN tidak dapat memperbaiki kabel, listrik, atau koneksi operator yang benar-benar terputus.

Apakah satelit akan tetap bekerja saat bencana?

Satelit dapat menjadi jalur alternatif, tetapi terminal pengguna membutuhkan listrik, pandangan ke langit, perangkat yang berfungsi, dan kapasitas jaringan yang tersedia.

Berapa lama internet bisa dipulihkan?

Waktunya bergantung pada penyebabnya.

Kesalahan perangkat lunak mungkin pulih dalam hitungan menit atau jam. Kerusakan kabel dapat membutuhkan beberapa hari atau minggu. Kerusakan listrik dan infrastruktur besar dapat membutuhkan waktu lebih lama.

Kesimpulan

Internet dapat mengalami gangguan besar, tetapi mematikan seluruh internet dunia secara bersamaan sangat sulit.

Internet bukan satu mesin, satu server, atau satu perusahaan. Internet merupakan jaringan dari banyak jaringan yang mempunyai operator, teknologi, rute, dan lokasi berbeda.

Satu kabel dapat putus. Satu layanan cloud dapat gagal. DNS dapat diserang. Satelit dapat mengalami gangguan. Jaringan listrik dapat padam.

Namun selama masih terdapat jaringan, listrik, perangkat, dan jalur alternatif yang bekerja, sebagian internet akan tetap hidup.

Risiko paling realistis bagi masyarakat dan organisasi bukanlah internet global menghilang untuk selamanya, melainkan:

  • Gangguan regional selama beberapa hari.
  • Putusnya kabel utama.
  • Kegagalan provider.
  • Pemadaman listrik.
  • Gangguan cloud.
  • Serangan siber.
  • Hilangnya akses ke aplikasi penting.

Karena itu, pertanyaan yang lebih berguna bukan hanya:

Apakah internet bisa mati?

Pertanyaan yang perlu dijawab adalah:

Apakah masyarakat, pemerintah, dan perusahaan mampu menjalankan layanan penting ketika internet tidak tersedia untuk sementara?

Internet yang tangguh membutuhkan kabel dengan jalur beragam, satelit cadangan, pusat data lokal, DNS yang terdistribusi, pasokan listrik andal, keamanan siber, dan rencana kelangsungan bisnis yang telah diuji.

Internet mungkin tidak mudah dimatikan.

Namun ketergantungan masyarakat terhadap internet membuat gangguan beberapa jam saja cukup untuk menunjukkan betapa pentingnya kesiapan sebelum krisis terjadi.