Stres hampir tidak mungkin dihilangkan sepenuhnya dari kehidupan.
Tekanan pekerjaan, masalah keluarga, kondisi keuangan, kemacetan, konflik, target, perubahan organisasi, hingga ketidakpastian masa depan dapat memicu stres.
Pertanyaannya: Apakah seseorang dapat melatih dirinya agar lebih mampu mengendalikan stres?
Jawabannya adalah bisa.
Namun, mengendalikan stres bukan berarti tidak pernah merasa takut, marah, cemas, kecewa, atau tertekan.
Kemampuan mengelola stres justru terlihat dari bagaimana seseorang:
- Mengenali stres lebih awal.
- Menenangkan reaksi tubuh.
- Mengendalikan respons emosional.
- Tetap berpikir rasional.
- Mengambil tindakan yang tepat.
- Pulih lebih cepat setelah menghadapi tekanan.
Dengan demikian, tujuan latihan bukan menjadikan manusia kebal terhadap stres.
Tujuannya adalah membangun kemampuan agar stres tidak mengambil alih pikiran, perkataan, dan keputusan kita.
Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan maupun penanganan oleh psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan.
Stres Tidak Selalu Buruk
Stres merupakan respons fisik dan emosional tubuh ketika menghadapi situasi baru, sulit, atau dianggap mengancam.
Dalam kadar tertentu, stres dapat membuat seseorang:
- Lebih waspada.
- Bergerak lebih cepat.
- Mempersiapkan diri dengan lebih baik.
- Berkonsentrasi menghadapi tantangan.
- Mencari solusi atas suatu masalah.
Sebagai contoh, tekanan menjelang presentasi dapat mendorong seseorang mempelajari materi lebih serius.
Masalah muncul ketika stres terlalu kuat, berlangsung terlalu lama, atau tidak diikuti pemulihan yang memadai.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention atau CDC, stres berkepanjangan dapat memengaruhi konsentrasi, pengambilan keputusan, kualitas tidur, kondisi fisik, dan kesehatan mental.
Karena itu, persoalannya bukan sekadar ada atau tidak adanya stres.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah kita masih dapat mengendalikan respons ketika stres muncul?
Apa yang Sebenarnya Perlu Dilatih?
Kemampuan mengelola stres setidaknya terdiri atas empat keterampilan.
1. Kesadaran terhadap pemicu
Seseorang perlu mengetahui situasi apa yang paling sering memicu stres.
Pemicu tersebut dapat berupa:
- Tenggat waktu pekerjaan.
- Kritik dari orang lain.
- Ketidakjelasan tugas.
- Konflik dengan rekan kerja.
- Perubahan rencana secara mendadak.
- Masalah keuangan.
- Kurangnya waktu istirahat.
- Kekhawatiran terhadap sesuatu yang belum terjadi.
Tanpa mengenali pemicunya, seseorang cenderung merasa stres secara berulang tanpa mengetahui pola penyebabnya.
2. Kemampuan menenangkan tubuh
Stres bukan hanya terjadi dalam pikiran.
Tubuh dapat memberikan reaksi berupa:
- Jantung berdebar.
- Napas lebih cepat.
- Otot menegang.
- Tangan berkeringat.
- Sakit kepala.
- Gangguan pencernaan.
- Sulit tidur.
- Sulit berkonsentrasi.
Karena itu, pengelolaan stres perlu melibatkan upaya menenangkan tubuh, bukan hanya mengatakan kepada diri sendiri agar “jangan memikirkan masalah”.
3. Kemampuan memeriksa pikiran
Ketika sedang stres, manusia mudah mencampurkan fakta dengan asumsi.
Contohnya:
“Pekerjaan saya belum selesai” merupakan fakta.
Sementara itu:
“Atasan pasti menganggap saya tidak kompeten dan karier saya akan berakhir” merupakan perkiraan.
Perkiraan tersebut belum tentu benar, tetapi tubuh dapat meresponsnya seolah-olah ancaman itu benar-benar telah terjadi.
4. Kemampuan memilih respons
Kita tidak selalu dapat mengendalikan peristiwa, tetapi masih dapat melatih cara meresponsnya.
Respons tersebut dapat berupa:
- Meminta penjelasan.
- Menentukan prioritas.
- Memecah pekerjaan menjadi beberapa bagian.
- Meminta bantuan.
- Menunda keputusan sampai lebih tenang.
- Menyampaikan keberatan secara baik.
- Menerima sesuatu yang memang tidak dapat diubah.
Inilah inti kemampuan mengelola stres.
Mengenali Rantai Reaksi Stres
Stres biasanya tidak terjadi dalam satu tahapan.
Terdapat rantai reaksi yang berlangsung sangat cepat.
| Tahapan | Contoh |
|---|---|
| Pemicu | Atasan meminta revisi laporan |
| Pikiran otomatis | “Laporan saya pasti sangat buruk” |
| Reaksi tubuh | Jantung berdebar dan otot menegang |
| Emosi | Takut, malu, atau marah |
| Perilaku | Membela diri atau menghindari pekerjaan |
| Hasil | Konflik bertambah dan pekerjaan semakin terlambat |
Rantai tersebut dapat diputus pada beberapa titik.
Kita dapat mengatur pernapasan untuk menurunkan reaksi tubuh, memeriksa kembali pikiran otomatis, kemudian memilih tindakan yang lebih tepat.
Semakin sering pola ini disadari, semakin besar peluang kita untuk tidak bereaksi secara impulsif.
Teknik JEDA untuk Mengelola Stres
Salah satu cara sederhana yang dapat digunakan ketika tekanan meningkat adalah teknik JEDA.
JEDA merupakan singkatan dari:
- Jangan langsung bereaksi.
- Embuskan napas secara perlahan.
- Definisikan masalah.
- Ambil satu tindakan.
J — Jangan Langsung Bereaksi
Saat emosi meningkat, jangan langsung:
- Membalas pesan.
- Mengirim surat elektronik.
- Membuat keputusan besar.
- Menuduh orang lain.
- Meninggikan suara.
- Menulis komentar di media sosial.
Berhentilah selama 10 sampai 30 detik.
Jika memungkinkan, berikan waktu lebih lama sampai intensitas emosi menurun.
Menunda reaksi bukan berarti menghindari masalah.
Tujuannya adalah menciptakan jarak antara pemicu dan respons.
E — Embuskan Napas Secara Perlahan
Tarik napas perlahan selama kurang lebih empat detik, kemudian embuskan selama sekitar enam detik.
Lakukan dengan nyaman selama beberapa menit tanpa memaksakan napas dan tanpa menahannya terlalu lama.
Fokus utama berada pada embusan yang tenang dan lebih panjang.
Jika merasa pusing atau tidak nyaman, hentikan latihan dan kembali bernapas secara normal.
Latihan pernapasan lebih efektif jika dilakukan secara rutin ketika kondisi sedang tenang. Dengan demikian, tubuh sudah mengenali pola tersebut ketika stres benar-benar muncul.
D — Definisikan Masalah
Setelah tubuh sedikit lebih tenang, tanyakan:
- Apa fakta yang sebenarnya terjadi?
- Apa yang hanya merupakan asumsi saya?
- Apa dampak yang paling mungkin terjadi?
- Bagian mana yang berada dalam kendali saya?
- Informasi apa yang belum saya miliki?
- Siapa yang perlu saya hubungi?
Masalah yang belum didefinisikan sering terlihat jauh lebih besar daripada keadaan sebenarnya.
A — Ambil Satu Tindakan
Jangan memaksa diri menyelesaikan seluruh masalah sekaligus.
Tentukan satu tindakan terkecil yang dapat dilakukan saat ini.
Contohnya:
- Membuat daftar pekerjaan.
- Menentukan tiga prioritas utama.
- Menghubungi pihak terkait.
- Meminta tambahan informasi.
- Menjadwalkan pembicaraan.
- Menyelesaikan satu bagian laporan.
- Beristirahat selama sepuluh menit sebelum melanjutkan.
Satu tindakan kecil dapat mengembalikan perasaan memiliki kendali.
Latihan 15 Menit Setiap Hari
Kemampuan mengelola stres tidak cukup dilatih hanya ketika masalah besar muncul.
Latihan perlu dilakukan secara rutin, seperti melatih otot.
Program sederhana berikut dapat dilakukan selama 15 menit setiap hari.
Lima menit pertama: latihan pernapasan
Duduk dengan nyaman dan letakkan telapak kaki di lantai.
Tarik napas secara perlahan, kemudian embuskan dengan tenang. Tidak perlu menarik napas terlalu dalam.
Ketika perhatian teralihkan, kembalikan fokus kepada aliran napas.
Lima menit kedua: grounding
Grounding merupakan latihan mengembalikan perhatian kepada keadaan saat ini.
Perhatikan:
- Lima benda yang terlihat.
- Empat bagian tubuh yang dapat dirasakan.
- Tiga suara yang terdengar.
- Dua aroma yang tercium.
- Satu hal yang dapat disyukuri.
Latihan ini membantu mengurangi kecenderungan pikiran terus berputar pada ancaman masa depan atau penyesalan masa lalu.
Panduan WHO berjudul Doing What Matters in Times of Stress memasukkan grounding sebagai salah satu keterampilan praktis untuk menghadapi tekanan. WHO menyatakan bahwa latihan pengelolaan stres dapat dimulai hanya dengan beberapa menit setiap hari.
Lima menit ketiga: jurnal stres
Tuliskan pengalaman stres yang terjadi pada hari tersebut.
Gunakan format berikut:
| Pertanyaan | Catatan |
|---|---|
| Apa pemicunya? | |
| Apa yang saya pikirkan? | |
| Apa yang dirasakan tubuh? | |
| Berapa tingkat stres 0–10? | |
| Bagaimana saya merespons? | |
| Apa hasilnya? | |
| Apa yang dapat diperbaiki? |
Jurnal bukan digunakan untuk menyalahkan diri sendiri.
Tujuannya adalah menemukan pola.
Setelah beberapa minggu, kita mungkin menyadari bahwa stres lebih mudah muncul ketika kurang tidur, terlalu banyak minum kopi, menghadapi ketidakjelasan, atau menunda pekerjaan terlalu lama.
Melatih Diri Menghadapi Tekanan Secara Bertahap
Kemampuan menghadapi stres juga dapat dilatih melalui tantangan bertahap.
Pilih situasi yang menimbulkan stres ringan sampai sedang, misalnya pada tingkat 4–6 dari skala 10.
Contohnya:
- Menyampaikan pendapat dalam rapat.
- Memulai percakapan yang selama ini dihindari.
- Bertanya ketika instruksi belum jelas.
- Mengerjakan tugas dengan batas waktu yang realistis.
- Menerima kritik tanpa langsung membela diri.
- Mengatakan tidak terhadap permintaan yang tidak masuk akal.
Sebelum menghadapi situasi tersebut, lakukan tiga hal:
- Perkirakan tingkat stres.
- Tentukan respons yang ingin dilatih.
- Siapkan teknik JEDA jika tekanan meningkat.
Setelah selesai, evaluasi:
- Apa yang sebelumnya saya khawatirkan?
- Apa yang benar-benar terjadi?
- Bagian mana yang dapat saya tangani dengan baik?
- Apa yang perlu diperbaiki?
- Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk kembali tenang?
Latihan ini tidak berarti sengaja mencari konflik atau memasuki situasi berbahaya.
Kurang tidur, bekerja tanpa istirahat, menghadapi tekanan ekstrem, atau membiarkan diri terus berada dalam hubungan yang merusak bukanlah latihan ketahanan stres.
Mengelola Stres Seperti Mengelola Risiko
Pengelolaan stres memiliki kemiripan dengan manajemen risiko.
Dalam manajemen risiko, suatu ancaman tidak cukup hanya dikhawatirkan. Ancaman perlu diidentifikasi, dianalisis, dimitigasi, dan dipantau.
Pendekatan serupa dapat diterapkan pada stres.
| Unsur manajemen risiko | Penerapan pada stres |
|---|---|
| Identifikasi risiko | Mengenali pemicu stres |
| Analisis penyebab | Memahami mengapa situasi terasa mengancam |
| Analisis dampak | Menilai pengaruh terhadap tubuh, pikiran, dan perilaku |
| Pengendalian | Menentukan tindakan yang dapat dilakukan |
| Rencana kontingensi | Menyiapkan pilihan jika hasil tidak sesuai harapan |
| Pemantauan | Mencatat intensitas dan waktu pemulihan |
Sebagai contoh, seseorang merasa stres karena harus memberikan presentasi penting.
Mitigasinya bukan sekadar berusaha “berpikir positif”.
Mitigasi yang lebih konkret dapat berupa:
- Mempelajari materi.
- Menyiapkan struktur presentasi.
- Melakukan simulasi.
- Memperkirakan pertanyaan.
- Menyiapkan data pendukung.
- Datang lebih awal.
- Melakukan pernapasan perlahan sebelum presentasi.
Dengan demikian, pengelolaan stres menggabungkan pengendalian emosi dan penyelesaian masalah.
Bedakan Masalah yang Bisa dan Tidak Bisa Dikendalikan
Tidak semua penyebab stres berada dalam kendali kita.
Agar energi tidak habis untuk memikirkan sesuatu yang tidak dapat diubah, bagilah masalah menjadi tiga kelompok.
Bisa dikendalikan
Contohnya:
- Persiapan.
- Jadwal.
- Cara berbicara.
- Prioritas pekerjaan.
- Respons terhadap kritik.
- Keputusan meminta bantuan.
Bisa dipengaruhi
Contohnya:
- Kesepakatan tim.
- Keputusan atasan.
- Pembagian pekerjaan.
- Jadwal rapat.
- Perilaku anggota keluarga.
Kita tidak memiliki kendali penuh, tetapi masih dapat berkomunikasi, mengusulkan, dan bernegosiasi.
Tidak bisa dikendalikan
Contohnya:
- Masa lalu.
- Pendapat semua orang.
- Cuaca.
- Perubahan ekonomi global.
- Keputusan orang lain yang berada di luar kewenangan kita.
Terhadap kelompok terakhir, keterampilan yang dibutuhkan bukan pengendalian, melainkan penerimaan dan penyesuaian.
Menerima kenyataan bukan berarti menyukai keadaan tersebut.
Penerimaan berarti berhenti menghabiskan energi untuk menyangkal sesuatu yang memang telah terjadi.
Perkuat Fondasi Fisik
Kemampuan mengelola stres sangat dipengaruhi kondisi tubuh.
Beberapa kebiasaan dasar yang perlu dijaga antara lain:
- Tidur yang cukup dan teratur.
- Aktivitas fisik secara rutin.
- Makan secara seimbang.
- Memiliki waktu istirahat.
- Membatasi konsumsi kafein jika menimbulkan kegelisahan.
- Menghindari rokok, narkotika, dan penggunaan obat tanpa petunjuk tenaga kesehatan.
- Tidak menggunakan alkohol sebagai pelarian.
- Menjaga hubungan dengan orang yang dapat dipercaya.
CDC merekomendasikan tidur yang cukup, aktivitas fisik, kegiatan relaksasi, jurnal, hubungan sosial, dan pola hidup sehat sebagai bagian dari pengelolaan stres.
Bagi orang yang mudah berdebar atau sulit tidur, konsumsi kopi dan minuman berkafein juga perlu diperhatikan. Sensitivitas setiap orang terhadap kafein dapat berbeda.
Peran Ibadah dan Refleksi Spiritual
Bagi orang yang beragama, ibadah dapat menjadi bagian dari upaya menjaga ketenangan.
Shalat, doa, dzikir, membaca Al-Qur’an, bersyukur, dan bertawakal dapat membantu seseorang mengambil jarak dari masalah serta menyadari bahwa tidak semua hal berada dalam kendali manusia.
Namun, tawakal tidak berarti pasif.
Tawakal perlu disertai ikhtiar.
Seseorang tetap perlu:
- Menganalisis masalah.
- Mempersiapkan diri.
- Memperbaiki kesalahan.
- Meminta bantuan.
- Menjaga kesehatan.
- Mengambil tindakan yang diperlukan.
Ikhtiar membantu manusia mengelola hal yang dapat dikendalikan, sedangkan tawakal membantu menerima hasil yang berada di luar kendalinya.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Saat Menghadapi Stres
Beberapa cara terlihat dapat meredakan tekanan untuk sementara, tetapi justru memperburuk masalah.
Memendam seluruh emosi
Mengendalikan emosi tidak sama dengan menolak keberadaan emosi.
Mengatakan “saya tidak boleh sedih” atau “saya tidak boleh takut” dapat membuat seseorang semakin sibuk melawan dirinya sendiri.
Emosi perlu dikenali, tetapi tidak harus selalu dituruti.
Melampiaskan stres kepada orang lain
Berteriak, menghina, atau mengirim pesan kasar mungkin memberikan kelegaan sesaat.
Namun, tindakan tersebut dapat menciptakan konflik baru yang menambah sumber stres.
Terus memikirkan masalah tanpa tindakan
Berpikir diperlukan untuk mencari solusi.
Namun, mengulang pikiran yang sama tanpa menghasilkan keputusan disebut sebagai perenungan berlebihan atau rumination.
Batasi waktu untuk memikirkan masalah, kemudian tentukan tindakan berikutnya.
Menghindari semua situasi sulit
Menghindar sesekali dapat memberikan waktu untuk memulihkan diri.
Namun, terus menghindari setiap situasi yang menimbulkan ketidaknyamanan dapat membuat kemampuan menghadapi tekanan semakin lemah.
Menjadikan kesibukan sebagai pelarian
Bekerja tanpa henti tidak selalu berarti produktif.
Kesibukan dapat menjadi cara untuk menghindari emosi, konflik, atau masalah pribadi yang sebenarnya perlu diselesaikan.
Bagaimana Mengukur Kemajuan?
Keberhasilan mengelola stres tidak diukur dari hilangnya seluruh tekanan.
Gunakan indikator yang lebih realistis.
| Indikator | Tanda adanya kemajuan |
|---|---|
| Intensitas stres | Tidak setinggi sebelumnya |
| Waktu pemulihan | Lebih cepat kembali tenang |
| Respons impulsif | Semakin jarang |
| Kualitas keputusan | Lebih rasional |
| Kesadaran pemicu | Semakin cepat dikenali |
| Kondisi tidur | Lebih stabil |
| Penyelesaian masalah | Lebih terarah |
| Hubungan sosial | Konflik akibat emosi berkurang |
Seseorang mungkin masih mengalami stres pada tingkat tujuh dari sepuluh.
Namun, jika sebelumnya membutuhkan dua hari untuk pulih dan sekarang hanya membutuhkan satu jam, hal tersebut merupakan kemajuan.
Kapan Perlu Mencari Bantuan Profesional?
Latihan mandiri tidak selalu cukup.
Pertimbangkan berkonsultasi dengan psikolog, psikiater, dokter, atau tenaga kesehatan apabila stres:
- Berlangsung terus-menerus.
- Mengganggu pekerjaan atau hubungan.
- Menyebabkan gangguan tidur berkepanjangan.
- Menimbulkan serangan panik berulang.
- Membuat seseorang tidak mampu menjalankan aktivitas sehari-hari.
- Memicu penggunaan alkohol atau obat-obatan.
- Disertai perasaan putus asa.
- Menimbulkan keinginan menyakiti diri sendiri atau orang lain.
Mencari bantuan bukanlah tanda kelemahan.
Tindakan tersebut merupakan bentuk pengendalian risiko sebelum kondisi berkembang menjadi lebih berat.
Jika muncul keinginan menyakiti diri atau mengakhiri hidup, segera hubungi orang yang dapat dipercaya, fasilitas kesehatan terdekat, atau layanan Healing119.id dari Kementerian Kesehatan melalui 119 ekstensi 8.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah stres dapat dihilangkan sepenuhnya?
Tidak. Stres merupakan bagian normal dari respons manusia terhadap perubahan dan tantangan. Tujuan pengelolaan stres adalah menjaga agar respons tersebut tetap proporsional dan tidak merusak kehidupan sehari-hari.
Berapa lama latihan pengelolaan stres mulai terasa?
Hasilnya berbeda pada setiap orang. Sebagian orang dapat merasa lebih tenang setelah beberapa menit melakukan pernapasan atau grounding. Namun, kemampuan mengelola stres yang lebih stabil membutuhkan latihan rutin selama beberapa minggu.
Apakah menarik napas dalam selalu dapat mengatasi stres?
Tidak selalu. Pernapasan hanya salah satu alat. Jika sumber stres berupa masalah konkret, seseorang tetap perlu menyelesaikan penyebabnya melalui komunikasi, perencanaan, pengambilan keputusan, atau bantuan profesional.
Apakah menghindari pemicu stres merupakan cara yang tepat?
Menghindari ancaman yang berbahaya dapat menjadi keputusan tepat. Namun, menghindari seluruh situasi yang tidak nyaman dapat memperlemah kemampuan menghadapi tekanan. Tantangan yang aman sebaiknya dihadapi secara bertahap.
Apa latihan paling sederhana untuk pemula?
Mulailah dengan latihan 15 menit sehari: lima menit pernapasan perlahan, lima menit grounding, dan lima menit menulis jurnal stres.
Kesimpulan
Kemampuan mengelola stres bukanlah bakat yang hanya dimiliki orang tertentu.
Kemampuan tersebut dapat dilatih.
Latihannya dimulai dengan mengenali pemicu, menenangkan reaksi tubuh, memeriksa pikiran, dan memilih respons yang lebih tepat.
Teknik JEDA dapat digunakan sebagai panduan sederhana:
- Jangan langsung bereaksi.
- Embuskan napas secara perlahan.
- Definisikan masalah.
- Ambil satu tindakan.
Stres mungkin tidak dapat dihilangkan dari kehidupan.
Namun, kita dapat melatih diri agar stres tidak sepenuhnya mengendalikan pikiran dan keputusan kita.
Ukuran keberhasilannya bukan tidak pernah merasa tertekan.
Ukuran keberhasilannya adalah tetap mampu bertindak secara sadar, rasional, dan bertanggung jawab ketika tekanan datang.
Referensi
- World Health Organization. Doing What Matters in Times of Stress: An Illustrated Guide.
- Centers for Disease Control and Prevention. Managing Stress.
- Bentley, T.G.K. dan rekan. Breathing Practices for Stress and Anxiety Reduction: Conceptual Framework of Implementation Guidelines Based on a Systematic Review of the Published Literature.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Cegah Bunuh Diri, Dukung Kesehatan Jiwa: Kenali Layanan Healing119.id.

